Wiljan Pluim Blak-blakan tentang Paspoortgate di Liga Belanda, Pernah Dapat Tawaran Naturalisasi Indonesia

7 hours ago 2

Bola.com, Amsterdam - Mantan pemain PSM Makassar, Wiljan Pluim, menjadi bintang tamu secara virtual dalam siniar ESPN Belanda bertajuk "Tekengeld" yang tayang di YouTube pada Rabu (8/4/2026).

Pluim bergabung dengan mantan rekan setimnya di PSM, Anco Jansen, dan Evgeniy Levchenko, mantan gelandang Groningen dan Sparta Rotterdam dari Ukraina.

Dalam program yang dipandu oleh jurnalis ESPN Belanda, Yordi Yamali, itu, ketiganya membahas tentang paspoortgate, kasus yang menjerat pemain yang sebelumnya berkewarganegaraan Belanda, tetapi dinaturalisasi oleh negara lain dan masih bermain di Negeri Kincir Angin.

Paspoortgate turut menyeret beberapa pemain naturalisasi Timnas Indonesia, mulai dari Dean James, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, hingga Tim Geypens, yang terpaksa dinonaktifkan dari latihan dan pertandingan untuk sementara waktu.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Cerita Awal Wiljan Pluim

Pluim memulai ceritanya dengan mengingat kembali kariernya di Indonesia. Jebolan Eredivisie tersebut membela PSM Makassar pada 2016-2023 dan Borneo FC Samarinda pada 2023-2024.

"Ya, itu benar. Kamu memang boleh, jika kamu sudah bermain selama lima tahun untuk klub yang sama, maka kamu otomatis berhak mendapatkan paspor," ujar Pluim.

Pluim mengisahkan ketika telah lima tahun berada di Indonesia, ia mendapatkan tawaran untuk dinaturalisasi sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) supaya terhitung sebagai pemain lokal.

"Pada saat itu juga sempat ada dorongan dari federasi apakah saya tidak ingin mengambil paspor tersebut, juga dari klub, karena dengan begitu kamu juga akan mengisi kuota pemain lokal, mengingat ada batasan jumlah pemain asing yang boleh dimiliki klub," kata Pluim.

Sempat Mempertimbangkan

Tetapi, Pluim ragu dengan opsi menjadi WNI meski sempat mempertimbangkan. Sebab, ia harus melepas paspor Belanda. Setelah berkonsultasi dengan istrinya, pria berusia 37 tahun itu memilih untuk tidak mengambil kesempatan berganti kewarganegaraan.

"Namun, saya juga mendengar cerita dari pemain lain yang memiliki paspor itu, seperti bagaimana status paspor Belanda kamu?" imbuh Pluim.

"Bagaimana jadinya? Karena di Indonesia kamu hanya boleh memiliki satu paspor. Jadi, pada suatu titik saya mulai memikirkan hal itu. Apa yang saya inginkan setelah karier saya? Apakah saya ingin tetap tinggal di sana atau kembali ke Belanda? Namun, itu cukup cepat menjadi jelas, juga setelah berdiskusi dengan istri saya, bahwa kami akan kembali ke Belanda."

"Jadi, saat itu saya akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya, juga karena semua yang sedang terjadi sekarang. Saya sebenarnya tidak bisa mendapatkan kejelasan dari mana pun tentang situasinya," ucapnya.

Sejumlah Pemain Lain Beda Jalan dengan Wijlan Pluim

Berbeda dengan Pluim, mantan rekan setimnya di PSM, Marc Klok, memutuskan untuk menanggalkan kewarganegaraan Belanda demi menjadi WNI dan membela Timnas Indonesia.

Beberapa pemain yang sebelumnya berpaspor Belanda pun telah lebih dulu melakukannya, seperti Ezra Walian, Raphael Maitimo, Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, hingga Diego Michiels.

"Memang ada beberapa pemain yang sudah memilikinya saat itu dan mereka selalu mengatakan, 'Ya, sebenarnya tidak boleh, tetapi agak dibiarkan saja. Selama kamu membawa identitas Belanda, kamu bisa masuk ke negara itu tanpa visa', hal-hal seperti itu," ucap Pluim.

"Jadi, itu tidak terasa nyaman bagi saya. Dan saya harus mengatakan bahwa saat itu juga tidak terlalu bernilai bagi saya untuk mengambil paspor Indonesia," ungkapnya.

Privilese Dinaturalisasi WNI

Pluim paham bahwa dengan menjadi WNI bisa membela Timnas Indonesia. Selain itu, ia juga bakal mendapatkan privilese terbebas dari kuota pemain asing sehingga kariernya bisa lebih panjang di sana.

"Ya. Mereka pada awalnya tentu melakukan itu untuk bisa bermain di tim nasional. Dan dari situ juga menjadi lebih mudah untuk akhirnya pergi ke Indonesia. Sebagai pemain asing, tidak selalu mudah untuk mendapatkan tempat," terang Pluim.

"Sekarang memang sudah lebih banyak, tetapi di masa lalu sebenarnya hanya ada tiga pemain asing yang bisa bermain per klub. Jadi, itu memang cukup menarik bagi para pemain saat itu. Dengan memiliki paspor Indonesia, kamu tentu meningkatkan nilai dirimu. Setidaknya di Indonesia, kamu langsung menjadi jauh lebih bernilai."

"Jadi, bagi sebagian pemain itu mungkin menjadi pilihan. Namun, bagi saya tidak, karena saya sudah bermain beberapa tahun dan tidak banyak lagi yang harus saya buktikan atau untuk meningkatkan nilai saya. Jadi, saya merasa lebih baik tidak mengambilnya dan pada akhirnya kembali," paparnya.

Pembiaran

Terkait paspoortgate, Pluim pernah membahasnya dengan Anco Jansen sebelum kejadian ini meledak. Kasus itu berawal dari pemain non-Uni Eropa (EU) yang tidak punya izin kerja dan gaji minimum sesuai peraturan di Belanda.

"Saya memang pernah menyinggungnya. Saya juga pernah membicarakannya, kalau tidak salah dengan Anco. Pada akhirnya memang tidak diperbolehkan, tetapi ada pemain yang tetap bermain di sini sekarang," kata Pluim.

"Saya pikir semuanya sedikit banyak merupakan kebijakan pembiaran, juga dari pihak Indonesia, bagaimana hal itu disampaikan. Dari agen yang bersangkutan, yang seperti disebutkan Anco tadi, punya peran besar dalam hal itu."

"Saya pikir semuanya berjalan dengan semacam janji-janji yang tidak sepenuhnya benar, seperti, 'Selama tidak dibicarakan maka tidak akan terlihat, tidak ada yang akan membahasnya, dan kamu bisa terus menjalani kariermu', Sampai akhirnya NAC Breda mulai waspada," ujarnya.

Bukan Hanya Kesalahan Pemain

Pluim melihat persoalan ini tidak bisa semata-mata dibebankan kepada para pemain, karena situasi yang berkembang saat itu menunjukkan adanya ruang abu-abu yang dibiarkan terbuka oleh otoritas terkait.

"Tidak, tetapi saya berpikir bahwa ini terutama terjadi karena federasi Indonesia menerapkan kebijakan pembiaran dan mereka hanya mengatakan bahwa secara normal hal ini tidak diperbolehkan," ucap Pluim.

"Sebagai negara, mereka juga tidak melakukan ini. Namun, dalam situasi ini, dengan target lolos ke Piala Dunia, mereka pada akhirnya mungkin menjanjikan hal-hal yang juga tidak mereka duga akan menimbulkan masalah di kemudian hari."

"Sulit untuk mengatakannya secara pasti, tetapi saya tidak berpikir para pemain benar-benar dijebak," jelas pengoleksi 170 penampilan dengan 48 gol dan 46 assist di Liga Indonesia itu.

Sumber: ESPN Belanda

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Muhammad Adi Yaksa
  • Yus Mei Sawitri
Read Entire Article
Bola Indonesia |