Rivalitas Terselubung di BRI Super League 2025/2026: 3 Tim Jatim Terlibat dalam Bara Perseteruan

6 hours ago 4

Bola.com, Jakarta - BRI Super League 2025/2026 mendekati garis akhir persaingan. Usai pekan ke-27 ini maka pertandingan tinggal menyisakan tujuh laga bagi semua kontestan.

Persib, Borneo FC, dan Persija bersaing ketat menjadi juara. Sementara di papan bawah enam klub yakni PSM, Persijap, Persis, Madura United, Semen Padang, dan PSBS saling sikut dan jegal agar tak terdegradasi.

Namun tahukah Anda, jika dari 18 peserta kasta tertinggi musim ini terdapat enam tim secara berpasangan terlibat dalam perseteruan terselubung?

Yang menarik pertarungan harga diri ini melibatkan tiga klub asal Jatim. Rivalitas ini telah tertanam sejak lama. Meski tak nampak secara kasat mata, namun bara permusuhan itu bisa diamati dari posisi mereka di klasemen.

Ada tim-tim yang bergesekan sejak era Perserikatan. Ada dua tim yang berbenturan mulai awal tahun 2000-an. Tim-tim lain saling tak mau mengalah untuk menjaga marwah dan gengsi.

Ini dilatarbelakangi dendam lama akibat perebutan legalitas nama klub sebagai buntut dualisme di masa perselisihan kompetisi IPL dan ISL. Tiap pekan keenam tim ini saling intip rival mereka untuk menjaga diri agar posisinya tak disalip lawan. Siapa saja mereka?

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Persib Vs Persija

Sejarah rivalitas Persib dengan Persija telah berjalan sangat panjang. Bahkan, mungkin, sudah dimulai sejak kedua klub ini berdiri di era Hindia Belanda hingga di era sepak bola modern saat ini.

Pertandingan yang melibatkan Maung Bandung dan Macan Kemayoran selalu penuh intrik dan menguras emosi. Tensi panas itu tak hanya menghinggapi para pemain, tetapi juga pendukung fanatik kedua tim.

Tiap masa, bentrokan keduanya punya cerita berbeda yang tercatat dalam sejarah dan tetap dikenang hingga sekarang.

Di era Perserikatan, meskipun laga berlangsung panas jarang terjadi korban akibat gesekan kedua kubu suporter. Namun ketika zaman berubah dan generasi berganti mulai lah muncul berita kehilangan nyawa akibat bentrokan antarsuporter Persib dengan Persija.

Tiap musim kompetisi berganti, Persib dan Persija bersaing ketat. Di antara mereka seolah tak mau saling kalah. Musim ini Persib dan Persija saling intip dan salip sejak kick off BRI Super League 2025/2026.

Suhu makin meningkat di akhir periode ini. Persib yang mencanangkan target hatrik juara dapat perlawanan sengit dari Persija. Untuk sementara, hingga usai pekan ke-27, Persib memimpin puncak klasemen dengan yang mengoleksi 64 poin.

Marc Klok dkk. meninggalkan Persija di peringkat ketiga yang masih mengemas 55 angka. Selisih sembilan poin bukan lah jarak yang dekat. Nilai ini setara dengan tiga kemenangan yang harus diraih Rizki Ridho cs. di sisa pertandingan berikutnya.

Namun dengan syarat Persib pun harus kalah di tiga laga mendatang. Sebuah hal yang sangat mustahil bagi pasukan Bojan Hodak yang sangat perkasa musim ini.

Dualisme Pemicu Fanatisme

Dualisme Persebaya pada rentang 2010-2017 adalah konflik internal dan hukum yang melahirkan dua entitas yakni Persebaya 1927 (PT Persebaya Indonesia) yang didukung Bonek, dan Persebaya Divisi Utama (PT Mitra Muda Inti Berlian) bentukan Pengcab PSSI Surabaya.

Kedua kubu mengklaim pihak paling sah memiliki nama dan logo berlambang ikan Hiu dan Buaya. Dualisme muncul akibat perpecahan kompetisi di Indonesia pada 2010. Persebaya 1927 berlaga di Liga Primer Indonesia (LPI) saat PSSI dipimpin Djohar Arifin. Sedangkan Persebaya DU berkompetisi dalam naungan PT Liga Indonesia yang populer disebut ISL.

Persebaya 1927 dipimpin Saleh Mukadar, didukung penuh Bonek, dan dianggap mewakili identitas asli klub. Persebaya Divisi Utama dibentuk Wishnu Wardhana untuk menyelamatkan status keanggotaan PSSI, didukung oleh PSSI pada masanya.

Selama dualisme, Persebaya DU sempat beberapa kali berganti nama menjadi Bonek FC, Surabaya United, hingga akhirnya menjadi Bhayangkara FC setelah diakuisisi Polri. Nah, meski berubah nama dan logo, Bhayangkara FC seakan punya gengsi tinggi ketika bertemu Persebaya di Liga Domestik.

Meski tensi pertandingan selalu panas, namun laga kedua tim ini tak pernah berakhir anarkis. Karena Bhayangkara FC tak memiliki basis suporter besar dan fanatik seperti Bonek yang mendukung Persebaya.

Di BRI Super League musim ini, Bhayangkara FC yang pindah markas di Stadion Sumpah Pemuda Lampung bangga hati. Karena posisi mereka di urutan kelima tepat di atas Bajul Ijo.

Namun perolehan poin mereka hanya selisih dua angka. Bhayangkara FC yang sempat tertatih-tatih kini mengoleksi 44 angka, sementara Persebaya punya 42 poin.

Retak 2 Tim Bertetangga

Bukti persaingan Arema FC kontra Persib tampak pada posisi masing-masing di klasemen sementara. Singo Edan yang menempati peringkat ke-11 dengan poin 35 tepat satu tingkat di atas Macan Putih di bawah berkat 30 angka.

Bibit bara dendam muncul pada pentas Divisi Utama 2003 yang saat itu sebagai kasta tertinggi kompetisi di Indonesia. Tokoh sentralnya adalah Iwan Budianto yang berstatus menantu almarhum Walikota Kediri HA Maschut.

Iwan Budianto yang saat itu juga memimpin Arema memboyong pemain ke Persik. Langkah ini membuat kubu Arema dan Aremania meradang. Sebagai menantu yang baik dan patuh, Iwan Budianto berhasil mengantar Persik jadi juara Indonesia 2003.

Meski sejak 2010 Iwan Budianto telah pindah dan balik ke Malang dan kini menjabat CEO Arema FC, bibit kesumat yang sudah terpendam ini tiap saat membara lagi ketika kedua tim bertanding.

Musim lalu bus tim Persik dilempari oknum suporter usai mengalahkan Arema FC 3-0 di Stadion Kanjuruhan Malang. Padahal pertandingan berjalan lancar tanpa insiden antarpemain. Kedua pihak pun bisa menerima hasil dengan legawa.

Publik pun mengkaitkan permusuhan ini dengan sejarah intrik politik era kerajaan Tumapel dan Kediri pada masa Ken Arok dengan Raja Kediri Kertajaya. Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung memberontak kepada Kerajaan Kediri.

Setelah berhasil menewaskan Raja Kertajaya, Ken Arok pun mendirikan Kerajaan Singosari. Namun Jayakatwang, keturunan Kertajaya, balas dendam dan mengeksekusi Raja Kertanegara untuk lengser sebagai Raja Singosari.

Namun Kerajaan Kediri dan Jayakatwang pun diruntuhkan Raden Wijaya sebagai penerus keturunan Kertanegara hingga lahir lah Kerajaan Majapahit.

Persaingan di BRI Super League 2025/2026

  • 0%suka
  • 0%lucu
  • 0%sedih
  • 0%marah
  • 0%kaget
  • 0%aneh
  • 0%takut
  • 0%takjub
  • Gatot Sumitro
  • Gregah Nurikhsani
Read Entire Article
Bola Indonesia |