Bos PSIM Realistis Tatap Super League 2026/2027, Tembus 10 Besar Sudah Bersyukur Banget

3 hours ago 2

Bola.com, Yogyakarta - Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Liana Tasno, memilih realistis dalam memasang target untuk Super League 2026/2027.

Liana mengakui target lima besar memang terdengar menarik. Namun, ambisi tersebut harus diimbangi dengan kekuatan finansial yang besar sehingga tidak ingin memaksakan kondisi klub.

"Target sebenarnya kalau dikasih kesempatan, besok kami seperti musim kemarin, bisa tidur tuh sudah bersyukur karena kalau misalnya mau bicara target lima besar, itu bicara bujet yang sangat besar," ujar Liana.

Pada musim lalu, Laskar Mataram finis di peringkat ke-11 klasemen BRI Super League dengan koleksi 45 poin. Hasil dari 11 menang, 12 imbang, dan 11 kalah dalam 34 pertandingan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Tak Ingin Hanya Jorjoran Belanja Pemain

Liana tidak ingin PSIM hanya mengandalkan belanja pemain setiap musim. Dia memiliki visi membangun klub secara berkelanjutan dengan menyeimbangkan perekrutan pemain dan pengembangan akademi.

"Saya punya visi, PSIM ini bukan hanya belanja doang. Itu memang trennya ya belanja. Tapi, saya kepingin belanjanya diseimbangkan dengan pengembangan usia muda yang harus kami invest," ungkapnya.

Menurut Liana, investasi terhadap pemain muda nantinya diharapkan mampu menyuplai kebutuhan tim utama. Dengan begitu, beban anggaran untuk membentuk skuad senior tidak akan terlalu besar setiap musim.

"Jadi, kami juga invest di pengembangan usia muda, di mana nanti pengembangan usia mudanya ini bisa supply ke first team sehingga bujet yang first team enggak menjadi beban banget," lanjutnya.

Belajar Mengelola Klub di Level Tertinggi

Bos PSIM berusia 43 tahun itu menyadari tim kebanggaan warga Yogyakarta yang baru promosi musim lalu itu, masih beradaptasi dengan berbagai tuntutan di kompetisi kasta tertinggi, termasuk memenuhi standar infrastruktur yang ditetapkan PSSI.

"Tapi, kami tahu diri, kami klub baru promosi dan baru belajar untuk memenuhi standar PSSI yang tadi infrastruktur. Saya pikir ini tahun kedua saya belajar untuk me-manage klub Liga 1," ucapnya.

"Jangan sampai donatur saya kapok karena minta bujet gede, terus kami juga baru naik ke Liga 1 kemarin. Waktu dapat proyek PSIM di Liga 1 ini, dua tahun saya benar-benar stres banget."

"Tapi, kan sekali lagi harus do better PSIM ke depannya, jadi kalau misalnya bisa masuk peringkat 10 besar, Puji Tuhan," imbuh Liana Tasno.

Read Entire Article
Bola Indonesia |